Pemanfaatan Buah Pedada (Sonneratia caseolaris)

Oleh :

Lidia br Sebayang

C34080021

Departemen Teknologi Hasil Perairan

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Institut Pertanian Bogor

Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan keanekaragaman hayatinya, terutama kekayaan yang terkandung di wilayah perairan. Dengan kekayaan yang begitu melimpah, maka sangat banyak memberikan manfaat bagi manusia. Salah satu bentuk pemanfaatan sumberdaya perairan adalah vegetasi hutan mangrove yang di dalamnya terdapat koloni pohon buah pedada (Sonneratia caseolaris) yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku untuk menghasilkan produk yang memiliki nilai jual tinggi, baik di pasaran regional maupun internasional

Potensi mangrove di Indonesia sangat besar karena memiliki beberapa jenis mangrove yang tumbuh subur. Terdapat 5 spesies pohon mangrove dari genus Sonneratia, yaitu : Sonneratia alba, S. caseolaris, S. ovata, S. apetala dan S. laceolata. Salah satu jenis mangrove yang dimanfaatkan buahnya yaitu jenis pedada (Sonneratia caseolaris) yang hidup dan tumbuh di hutan mangrove. Tanaman ini memiliki daun berbentuk elips dan ujungnya memanjang dengan tulang daun berbentuk menjari. Bunga memiliki kelopak bunga mengkilat dan hijau serta datar denganĀ  benang sari berwarna merah dan renggang. Buah ini memiliki morfologi yang sangat unik berbentuk bulat dengan diameter 6-8 cm.

Buah pedada termasuk ke dalam kelas Angiospermae, tumbuhan biji terbuka yang memiliki propagule atau bakal buah yang sangat unik. Memiliki kemampuan mengapung dan memiliki akar napas untuk membantu dalam proses respirasi serta reproduksinya polinasi yang dipengaruhi oleh serangga dan angin. Adaptasi yang tinggi terhadap salinitas yang tinggi maupun rendah dengan daun yang tebal, dan adaptasi dengan akar napas serta bereproduksiĀ  dengan bakal buah yang disebut propagule.

Keunikan tumbuhan ini tak kalah penting dengan manfaatnya baik dari bunga, buah atau daunnya yang digunakan sebagai bahan makanan dan minuman, seperti dodol, es juice dan syrup. Faktor pertumbuhan memiliki cara yang sangat unik serta kondisinya sangat didukung oleh lingkungannya.

Kadar lemak merupakan salah satu unsur yang penting dalam bahan pangan karena lemak berfungsi untuk memperbaiki bentuk dan struktur fisik bahan pangan, menambah nilai gizi dan kalori, serta memberikan cita rasa yang gurih pada bahan pangan. Selain itu lemak berperan sangat penting bagi gizi dan kesehatan tubuh, terutama karena merupakan sumber energi dan sumber vitamin A, D, E dan K. Kadar lemak berpengaruh terhadap perubahan mutu produk pangan selama penyimpanan. Kerusakan lemak yang utama diakibatkan oleh proses oksidasi sehingga timbul bau dan rasa tengik, yang disebut proses ketengikan. Berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa kandungan lemak apel cukup kecil.

Ikan Danau Goreng Pepetek ( Leiognathus Spp.) Q-PEPETEK (Quality Pepetek)

Oleh :

Lidia br Sebayang

C34080021

Departemen Teknologi Hasil Perairan

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Institut Pertanian Bogor

Indonesia merupakan negara yang sangat kaya akan keanekaragaman hayatinya, terutama kekayaan yang terkandung di wilayah perairan. Dengan kekayaan yang begitu melimpah, maka sangat banyak memberikan manfaat bagi manusia. Dunia Internasional mengenal ikan pepetek dengan nama Ponny Fishes, Slipmounths, Slimys dan Soapy . Ikan pepetek di Bandung dan sekitarnya bukanlah jenis ikan yang lazim untuk dijadikan lauk masyarakat setempat.

Q-PEPETEK( Quality Pepetek) adalah adalah sajian Pepetek air tawar Danau Sguling Jawa Barat dengan bumbu tradisional keluarga. Bahan utama yang digunakan adalah ikan pepetek yang berasal dari danau. Bahan tambahan yang digunakan adalah tepung dan bumbu. Bumbu yang ditambahkan yaitu garam, bawang merah, cabai, kelapa sawit.

Ikan danau goreng terbuat dari ikan pepetek yang rasanya gurih dan mempunyai kandungan gizi yang tinggi sehingga cocok bagi semua anggota keluarga. Kandungan gizi ikan dan khasiat ikan pepetek, kulit ikan pepetek mengandung vitamin A, D, E, K, B2, lemak dengan Eicosa Pentaonic Acid (EPA) dan Prostaglandin yang berfungsi untuk mencegah penyakit jantung dan antiasma, duri ikan pepetek kaya akan kalsium dan kollagen yang berfungsi untuk mencegah pengeroposan tulang, daging ikan pepetek kaya akan protein dan vitamin yang berfungsi untuk pertumbuhan dan mengganti sel-sel yang rusak, kepala dan mata ikan mengandung banyak polysacarida (Taurin) yang berfungsi untuk perkembangan syaraf-syaraf otak dan sistem penglihatan, isi perut dan telur ikan kaya akan vitamin dan mineral yang berfungsi untuk menjaga daya tahan tubuh.

Ikan danau goreng ini di komersialkan dengan nama Q-PEPETEK. Makanan ini adalah oleh-oleh khas Priangan Jawa Barat yang dibuat dibawah binaan PPSDM LPPM-IPB. Q-Pepetek telah mendapat sertifikasi dari Dinas Kesehatan Bogor dengan nomor perizinan 202320101324 selain itu produk ini telah mendapat piagam bintang satu kemanan pangan dari Bahan POM RI pada tahun 2006. Q-Pepetek sering dijadikan cemilan dan dapat juga dijadikan lauk pauk.

IKAN BUNTAL (Tetraodon lunaris)

Oleh :

Lidia br Sebayang

C3080021

Departemen Teknologi Hasil Perairan

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Institut Pertanian Bogor

Ikan buntal pisang termasuk ke dalam famili tetraodontidae, yaitu memiliki bentuk tubuh bundar seperti bola, memiliki duri-duri kecil diperutnya dan memiliki empat buah gigi. Buntal pisang merupakan salah satu bahan baku yang digunakan dalam pembuatan berbagai jenis makanan terutama sashimi dan fugu, karena cita rasanya yang khas, lezat, gurih dan agak manis. Jenis buntal ini memiliki daging yang sangat elastis namun buntal pisang tersebut mengandung toxin yang tedapat pada empedu, hati, saluran pencernaan, telur dan ovari yang disebut tetrodotoxin (TTX). Toxin ini digunakan sebagai alat pertahanan diri di dalam tubuh buntal. Toxin ini sangat mematikan bagi manusia dan tidak dapat dihilangkan ataupun dirusak dengan proses pemanasan. Namun beberapa bagian tubuh dari ikan buntal aman dimakan dalam keadaan mentah maupun dimasak.

Analisis proksimat merupakan satuan metode analisis kimia yang mengidentifikasikan kandungan nutrisi, seperti kadar air, protein, karbohidrat, lemak, dan serat/mineralĀ  pada suatu zat makanan yang terkandung di dalamnya. Analisis proksimat bermanfaat sebagai formulasi dan bagian dari prosedur kecernaan. Sumber energi dapat digolongkan dari sumber karbohidrat yang mempunyai kandungan kimia karbon, hidrogen dan oksigen, sedangkan protein berasal dari asam amino yang berisi 16% nitrogen.

Kadar air dalam bahan pangan sangat mempengruhi kualitas dan daya simpan bahan pangan tersebut. Oleh karena itu, penentuan kadar air dari suatu bahan pangan sangat penting dalam pengolahan untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Abu merupakan zat oganik dari sisa pembakaran bahan organik. Penentuan kadar abu berhubugan dengan suatu mineral. Mineral yang terdapat dalam bahan pangan terdiri dari 2 jenis garam, yaitu garam organik, misalnya asetat, pektat, mallat dan garam anorganik misalnya karbonat, fosfat, sulfat dan nitrat. Proses untuk menentukan jumah mineral sisa pembakaran disebut pengabuan. Kandungan komposisi abu/mineral pada bahan pangan tergantung jenis bahan dan cara pengabuan.

Banyaknya faktor-faktor yang dapat mempengaruhi laju penurunan kualitas daging ikan, diperlukan teknik pengolahan bahan baku yang baik dan benar. Praktikum ini membahas mengenai karakteristik ikan buntal pisang dengan mengkaji aspek morfologi, laju kemunduran mutu dan rendemen pada jenis ikan buntal pisang serta uji proksimat daging ikan.